Bima The pRoses

25 September 2011

FAQ Tentang Mahasiswa Psikologi Berikut ini adalah pertanyaan yang kerap kali diajukan pada mahasiswa psikologi (sounds like a joke but it’s serious :p)

1.Dokter gue panggil ‘dok’. Kalo ke psikolog gue musti panggil apa dong?

Ya tergantung siapa namanya.

2.Apa bedanya psikolog dengan sarjana psikologi?
Sarjana psikologi adalah orang yang berhasil menamatkan pendidikan di fakultas psikologi. Untuk menjadi ‘psikolog’, dia butuh minimal 2 tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikan profesi plus tentunya beberapa puluh juta perak untuk ongkos kuliah. Orang yang udah menamatkan pendidikan profesi dianggap memenuhi kualifikasi untuk melakukan kegiatan psikodiagnostik (psikotes dan sejenisnya).

3.Artinya, kalo udah lulus jadi psikolog, langsung boleh buka praktek
Nggak, harus dia punya SRIP (Surat Rekomendasi Ijin Praktek) dulu. Untuk bisa dapet SRIP, seorang psikolog harus lulus tes khusus dan punya NPWP.

4.Gue / adik gue / saudara gue tertarik masuk fakultas psikologi. Kira-kira orang kaya dia cocok nggak ya kuliah di sana?
Yang jelas orang yang sangat tertarik mengetahui lebih lanjut tentang sisi kejiwaan orang lain. Selain itu kemampuan memahami konsep-konsep verbal, misalnya gemar utak-atik definisi, juga akan sangat membantu.

5.Gue / adik gue / saudara gue paling anti sama segala hal yang berbau hitung-hitungan / angka, makanya dia mau masuk fakultas psikologi aja.
Oh jangan salah, bobot hitung-hitungan di psikologi juga lumayan lho! Di jaman gue kuliah dulu aja, Statistik kebagian porsi sampai 3 SKS, MAsih ditambah Konstruksi Tes 3 SKS, Psikometri 3 SKS, dan Penyusunan Skala Psikologi 3 SKS… Jadi total 12 SKS related to hitungan…. Kalo orangnya bener-bener anti sama hitung-hitungan, fakultas Psikologi bukan tempat pelarian yang tepat.

6.Kalo kuliah di psikologi, diajarin seks ya? => Thanks to beberapa majalah bergambar cewek seksi yang memajang nama ‘majalah psikologi populer’ serta beberapa film beradegan telanjang yang menyebut diri ‘psychological thriller’, pertanyaan semacam ini sempet naik daun di era 90-an. Biasanya diajukan sambil cengar-cengir mupeng.
Ya, sebagian (kecil) mata kuliah di psikologi membahas tentang perilaku seksual, tapi secara umum kami lebih banyak membahas masalah seksual sambil cengengesan di kantin, seperti umumnya mahasiswa fakultas-fakultas lain.

7.Elo kan psikolog, bisa ‘baca’ gue dong.
Bisa, kalo elonya memang bersedia untuk ‘dibaca’.

8.Loh, artinya kalo seseorang nggak bersedia untuk ‘dibaca’, maka psikolog juga nggak mampu untuk ‘membaca’nya?
Ya. Apalagi kalo orangnya lebih pinter dari psikolognya.

9.Kita udah ngobrol-ngobrol gini, pastinya elo udah bisa ngebaca ya, gue orangnya kaya apa…
Wah, enggak tuh.

10.Loh, kenapa?
Elo juga bisa baca abjad, kan? Apakah artinya elo akan baca semua tulisan yang lewat di depan mata lo?

11.Ya enggak juga sih. Pastinya gue cuma baca yang penting / menarik aja.
Ya, sama. Gue juga gitu: kalo nggak ada perlunya, ngapain gue baca-bacain elu? FYI, para psikolog nggak berkeliaran kesana – kemari dan keisengan ‘ngebacain’ semua orang. Kami juga punya beberapa pilihan kegiatan lain yang lebih menarik kok.

12.Gue / temen gue / saudara gue punya kebiasaan yang aneh deh, masa dia suka begini nih: [mendeskripsikan sebuah perilaku yang dinilai aneh]. Nah, orang kaya gitu tuh istilah psikologinya apa sih? Udah termasuk ‘gila’ belum?
Memberikan pernyataan ‘istilah psikologi’ untuk sebuah perilaku manusia itu namanya labelling. Yang namanya labelling itu harus dilakukan dengan cermat melalui tes, observasi dan wawancara langsung – dan hanya untuk tujuan yang jelas. Istilah ‘gila’ nggak pernah digunakan dalam konteks psikologi sebagai bidang ilmu, karena itu bukanlah terminologi ilmiah. Yang ada hanyalah klasifikasi dan istilah yang spesifik, misalnya ‘Gangguan Paranoid’.

13.Psikolog kan katanya bisa membantu menyelesaikan masalah orang. Tapi kenapa giliran dirinya sendiri punya masalah, dia tetep butuh bantuan orang lain?
Analoginya seperti sikat. Gunanya kan untuk membersihkan kotoran. Tapi kalo sikat itu kotor, dia nggak bisa membersihkan dirinya sendiri. Sama dengan psikolog. Psikolog bekerja menggunakan pikirannya untuk menganalisa masalah yang ada di diri orang lain. Kalo pikirannya lagi terganggu, ya dia nggak akan bisa menggunakannya untuk membantu siapapun termasuk dirinya sendiri.

14.Psikolog katanya belajar untuk memahami orang lain. Tapi kenapa ada psikolog yang sok tau / sok pinter sendiri / galak / sinting?
Karena psikolog juga manusia dan sifat dasar manusia nggak otomatis berubah dengan pengetahuan yang dipelajari.

15.Besok gue mau ikutan psikotes nih. Ada tips nggak?
Tidur yang cukup, sebelum berangkat jangan lupa sarapan, dan jangan telat. Jangan lupa bawa alat tulis yang lengkap dan berdoa yang khusyuk sebelum mulai. Dengerin perintah dari petugasnya baik-baik, kalo ada pertanyaan tanyakan sebelum tes dimulai karena biasanya waktu tesnya mepet banget.

16.Ehm, maksud gue… minta bocoran kunci jawabannya, dodol.
Nggak bisa.

17.Pelit.
Ntar dulu, ada alasannya:
1. Soal psikotes itu ada banyak banget macamnya. Gue kan nggak akan tau, besok yang mau keluar soal yang mana. Sedangkan kalo gue kasih kunci untuk semua tesnya, artinya lo harus bawa setumpuk buku yang masing-masing setebel bantal. Belum sempet nyontek juga waktunya udah keburu abis.

2. Ada beberapa tes yang memang nggak ada kunci jawabannya, karena hasil tesnya sangat tergantung pada cara pengerjaan lo di kelas.

3. Untuk tes kepribadian, nggak ada jawaban yang benar atau salah. Yang ada hanyalah jawaban yang sesuai atau nggak sesuai dengan tipe kepribadian di jabatan yang mau elu lamar. Gue nggak tau orang dengan kepribadian seperti apa yang dicari oleh perusahaan yang lo lamar, jadi gimana gue mau ngasih bocoran?

4. Untuk menyusun sebuah alat tes butuh waktu dan tenaga yang nggak sedikit. Rancangan tes itu harus diuji coba berulang kali ke banyak responden, kadang sampe ribuan orang. Gue menghargai usaha yang nggak gampang itu dengan nggak membocorkan kunci jawabannya.

5. Gue terikat kode etik psikologi untuk nggak membocorkan jawaban tes.

6. Gue udah menghabiskan 5 tahun mondar – mandir dari rumah ke Bulaksumur, kepanasan, kehausan, di kelas kengantukan denger dosen ngoceh, begadang sampe thypus untuk bikin makalah, paper dan laporan, itupun hanya untuk dicela-cela sama dosen… jadi gimana ya, rada kurang rela aja gitu kalo sekarang harus ngasih gitu aja ilmu gue ke elu. Ya, untuk poin yang terakhir ini gue rela dikatain pelit. Tapi seandainya lo ngerasain jadi mahasiswa psikologi, lo akan mengerti kenapa.

18.Biarin ajalah kalo lo nggak mau ngasih. Toh gue liat di toko buku banyak dijual buku latihan psikotes.
Terserah kalo di luar sana ada psikolog yang gemar bocor-bocorin kunci psikotes, yang penting gue enggak. FYI, nggak semua buku yang dijual di toko memuat jawaban psikotes yang akurat. Sebagian hanya sekedar memirip-miripkan dengan jawaban psikotes yang asli. Artinya, kalo elo ikutin jawaban di buku itu mentah-mentah, malah akan rugi. Udahlah, PD aja dengan kemampuan sendiri kenapa sih?

19.Gue denger kalo ikutan psikotes kita akan disuruh nggambar. Gue sumpah nggak bisa nggambar sama sekali, gimana dong? Pasti nggak lulus ya?
Tes gambar di psikologi nggak dinilai dari keindahannya, jadi nggak ada hubungannya dengan keahlian ber-seni rupa. Buat aja gambar terbagus yang elo bisa.

20.Rata-rata psikolog kan udah tau kunci jawaban psikotes. Trus gimana caranya menyeleksi para psikolog untuk sebuah lowongan kerja?
Bisa dengan pake alat psikotes yang bener-bener baru dan belum dipakai secara luas. Tapi cara yang terbaik adalah lewat wawancara mendalam, misalnya Competence Based Interview.

Sekedar copas dari mas Banyu Wicaksono tapi dia juga copas dari Kaskus. Hehehe (Dengan beberapa penyesuaian, menyesuaikan kondisi aktual mas banyu. hehe)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: